Ada Caleg Stres, RSUD dr Soeroto dan Tempat Ini Siap Menangani

Home / Berita / Ada Caleg Stres, RSUD dr Soeroto dan Tempat Ini Siap Menangani
Ada Caleg Stres, RSUD dr Soeroto dan Tempat Ini Siap Menangani Ruang Teratai RSUD dr Soeroto menyediakan kamar khusus untuk caleg gagal. (FOTO: Ardian Febri TH/TIMES Indonesia)

TIMESPALEMBANG, NGAWI – Para calon anggota legislatif (caleg) yang gagal terpilih rawan mengalami gangguan kejiwaan dan menjadi caleg stres. Berkaca pada pemilu sebelumnya, sejumlah caleg gagal harus mendapat perawatan karena rawan stres dan depresi. Di Ngawi, ada dua tempat yang jadi jujugan para caleg gagal. Yakni RSUD dr Soeroto dan Pondok Rehabilitasi Jiwa Assyifa di Dusun Berjing, Desa Cepoko, Kecamatan Ngrambe, Ngawi.

RSUD dr Soeroto  memiliki layanan khusus pasien gangguan jiwa dan satu-satunya di eks Karesidenan Madiun. Khusus untuk caleg yang mengalami gangguan jiwa pasca gagal terpilih disediakan ruang khusus. Selayaknya kamar rawat inap pasien, tersedia fasilitas memadai. Bedanya, ada rantai besi untuk mengantisipasi pasien ngamuk.

"Sementara ini kami sediakan satu kamar khusus. Nanti bisa tambah kalau dibutuhkan," ujar Budi Supriyanto Kepala Ruang Teratai RSUD dr Soeroto Ngawi, Selasa (19/3/2019).

Diungkapkan, pada Pemilu 2014 lalu ada dua caleg gagal yang dirawat di Ruang Teratai. Mereka mengalami depresi setelah gagal jadi wakil rakyat. Selama dirawat, mereka didampingi ahli kejiwaan dan mendapat pengawasan ekstra. Pasien diberikan motivasi sehat dan tidak dibiarkan sendiri dalam masa perawatan.

Bagi yang menginginkan perawatan di luar rumah sakit,  Pondok Rehabilitasi Jiwa Assyifa bisa menjadi alternatif. Pondok Assyifa sudah cukup dikenal menerima perawatan penderita gangguan jiwa. Saat ini ada sekitar 140 orang yang sedang dirawat di sana. Terakhir, Pondok Assyifa menerima 5 orang caleg gagal saat Pemilu 2009.

"Semuanya dari wilayah Jawa Tengah. Kalau ada caleg yang gagal saat pemilu dan butuh perawatan kami siap," kata Dimas Saputra pimpinan Pondok Rehabilitasi Jiwa Assyifa, Selasa, (19/3/2019).

Di Pondok Assyifa Ngawi, penanganan penderita gangguan dilakukan dengan metode  non medis. Terapi antara lain dilakukan dengan doa, pijat atau bekam, dan terapi kegiatan baik pertanian, perikanan dan ketrampilan yang dimiliki pasien.

"Kami ingin pasien tidak dikucilkan namun dengan berbaur dan melakukan interaksi dengan yang lain bisa menjadi motivasi sembuh bagi pasien itu sendiri," ujar Dimas.

Baik di RSUD dr Soeroto maupun Pondok Assyiffa, Ngawi, keduanya punya cara masing-masing untuk membantu caleg stres dan gagal untuk mengatasi gangguan jiwa yang dialami. Metode yang dianggap efektif tergantung pada keluarga penderita. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com