TGB di Kancah Nasional: Meredupkah?

Home / Kopi TIMES / TGB di Kancah Nasional: Meredupkah?
TGB di Kancah Nasional: Meredupkah? Suaeb Qury, Ketua LTN NU NTB.(Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESPALEMBANG, MATARAMTGB Zainul Majdi Hadir sebagai tokoh muda dan punya karisma keulamaan dan cucu dari pahlwan Nasional dari NTB.

Berkiprah di panggung Nasional dan bukan perkara gampang dan sebagai pemain baru dikancah nasional yang berasal dari luar Pulau Jawa, TGB cukup dibilang hebat. 

Popularitasnya meningkat pesat seperti disulap, hingga menembus ke seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Di kancah nasional, TGB awalanya menjadi harapan sebagian besar masyarakat NTB, tapi ia belakangan tampak tenggelam di dalam kapal besar partai beringin. 

Mengapa demikian? Mungkin banyak yang bertanya, setelah TGB purna sebagai Gubernur NTB, ia masuk Golkar dan tenggelam dalam aktivitasnya. Nyaris namanya kini tenggelam di kancah nsional. Padahal sebelumnya TGB sebagai salah satu tokoh muda yang cukup cemerlang.  Sebuah parasit yang menyertainya kembali dengan pelbagai asumsi bahwa, TGB yang muncul dri NTB bisa bertrung di kancah politik nasional. 

Tapi apa daya, seperti kapal yang hampir karam, kiprah TGB terganjal keputusannya memilih salah satu partai. Golkar sebaagai partai para pengusaha menarik TGB mungkin dengan pertimbangan bahwa TGB sebagai ikon yang mewakili Islam di tubuh partai beringin tersebut.

TGB akhirnya menjatuhkan pilihannya ke Golkar setelah menolak godaan Nasdem. Sebagai imbasnya partai golkar yang dijajaki TGB tampak tak menempatkan TGB sebagai figur istimewa meski ia ditempatkan mengomandai salah satu bidang di tubuh partai tersebut. Namun mekanisme dalam partai tak mengizinkan TGB cukup lenggang bermain di dalam partai. 

Di NTB, TGB sebagai pemimpin daerah yang dianggap berprestasi, namun di kancah nasional ia kehilangan panggung dan kehilangan momentum. Kini TGB ak berkutik setelah masuk dalam partai beringin tersebut.   Setelah pilpres, namanya bak kapal karam. Mimpnya sebagai menteri akhirnya kandas di tengah jalan. 

Pengaruh pilihan  TGB,  berlabu di partai Golkar bisa jadi menjadi faktor penting yang mempengaruhi meredupnya nama TGB di kancah politik nasional. Selain memang terdapat faktor-faktor penting seperti dugaan kasus-kasus yang menjerat TGB selama ini mengiri kabar angin tentang figur TGB. Meski memang patut dilihat jugab kegagalan TGB dalam memenangkan partai golkar dan Presiden  Jokiwi pada pemilu serentak beberap waktu lalu di NTB. 

Tentu bukanlah sebuah kegagalan  menjadi salah satu indikator kenapa TGB tak terlalu dipandang dan diberikan panggung utama di tubuh partai Golkar dan bahkan diusulkan menjadi menteri-pun oleh golkar tidak. Wajar kemudian TGB hadir sebagai semacam figur yang mewakili Islam tapi tak begitu efektif mempengaruhi elektabilitas partai.

Masa Depan TGB di Kancah Nasional

Masih ingat di ingatan kita, nama TGB begitu kerap diberitakan setelah ia memberikan pernyataan sikap untuk mendukung Jokowi, namanya melambung tinggi. Hampir semua stasiun televisi mengundang secara spesial Tuan Guru Bajang untuk memberikan keterangan terkait pernyataannya itu.

Namun, TGB harus mendapat beragam komentar dan tanggapan hingga dalam bentuk hinaan dan cacian. Berbanding terbalik dengan persespsi awal publik yang menganggap dia adalah tokoh yang berpendidikan dan seorang ulama Hafidz Quran, sehingga dia dikatakan sebagai figur yang sangat ideal untuk memimpin Indonesia.

Setelah itu, bagaiaman karir politik TGB ke depan? Panggung politik ditentukan dari selihai apa TGB bermain di kancah naisonal bersama rival-rival kuat bersama tokoh-tokoh muda lainnya. Haruskah TGB hijrah kembali dari partai beringin ke partai yang lain? Kalkulai politik ke depan memang harus dipertimbangkan secara matang, terutama bagaimana peluangnya turut mengendalikan arah partai secara nasional. 

Kalau tak demikian TGB sebagai tokoh muda Islam akan hantu bersama gelombang modal yang memegang puncak kendali partai beringin terssebut. Namun kalau tak mampu membaca kontselasi politik ke e pan maka apa yang telah dibangun TGB semenjak lama hanya akan berakhir percuma.

Masa depan TGB akan benderang bergantung pada kendaraan yang ditumpanginya ke depan. Apa yang dihadapi saat ini sebagai tantangan ke depan tak sepenuhnya mampu moncer di kancah nasional tanpa ada kalkulasi politik yang tepat. Membaca gerak politik hari ini tentu saja  membutuhkan kalkulasi yang matang.

Sepertinya setelah pilpres usai, TGB kehilangan panggung untuk promosi diri, walaupun ia intens promosi lewat media sosial. Rasanya belum sempurna jika Media Mainstream belakangan tak menyorotinya. Sebelumnya ia pernah ditayang karena prestasinya memimpin NTB.

Entah dia sengaja dibuat tenggelam oleh lawannya ataukah memang TGB sengaja menyepi dari kerumun media? Satu hal yang pasti, ia tengah menghadapi dilema dan tantangan besar dalam kancah politik nasional. 

Ruang politik yang terbuka saat ini bisa jadi menjadi semacam peluang sekaligus tantangan dalam menghadapi dan arus politik saat ini. 

Latar belakangnya sebagai ulama sebetulnya menjadi modal kuat untuk bergerak di tingkat akar rumput, masuk dari pesantren ke pesantren, masjid ke masjid seperti yang telah dilakukan TGB pada saat menjelang pilpres lalu.

Sebagai politisi sekaligus ulama yang berumur  masih muda, tugas ke-ulama-an yang pastinya masih banyak rintangan yang akan ditemuinya, dan Islam yang diperlihatkan di bumi Indonesia sebagai Islam yang begitu ramah serta rasional, sehingga tidak terjebak dalam kontestasi politik kotor. Inilah mungkin yang wajib diperjuangkan. 

Bukan sekadar menyiapkan dirinya dalam kancah politik praktis.Jika apa yang dilakukan TGB adalah upaya perbaikan mindset umat, atau usaha mengeluarkan umat dari kotornya cara-cara dari praktik politik yang terjadi selama ini, maka inilah jalan yang tepat.  

TGB tetap TGB

Apa yang sudah dilakukan oleh TGB sebagai seorang ulama selama ini, tiada lain adalah melurus cara berfikir umat bukan untuk diarahkan pada kepentingan sesaat. Namun umat perlu diberdayakan agar kualitas berpikirnya serta pengaruh dalam kehidupan beragama memperlihatkan terapan Islam yang sesungguhnya yakni Islam yang rahmatan lil alamin dan washotiyah. 

Sebagai ulama atau politisi dalam mencerdaskan umat, karena dunia ini hanya sementara, manusia disebut mulia jika bisa memberikan pemahaman kepada umat sehingga umat berlomba-lomba berbuat kebaikan saling bahu membahu, bukan untuk kepentingan segelintir orang atau partai ataupun yang ingin berkuasa.

Apa yang sudah dilakukan oleh TGB sebagai ulama dan menyebarkan pesan islam yang damai se penjuru entero nusantara, bahkan sampai keluar negeri. Tentu tidak banyak orang dan ulama bisa melakuka, begitu juga kesedeehanaan yang selalu ditampilkan oleh TGB sebagai Ulama yang  tidak menjaga jarak dengan umatnya. 

Semoga  pengabdian terbaik yang dipersembahkan oleh TGB tetap tersirami bagi bangsa dan negara. Dan panggung yang sudah disiapkan oleh umat Islam buat TGB adalah kewajiban untuk tetap mengajarkan dan menyebarkan pesan-pesan agama yang washotiyah dan Rahmamatan lil alamin. (*)

*) Penulis adalah Suaeb Qury, Ketua LTN NU NTB.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com