Kursi of Kursi

Home / Kopi TIMES / Kursi of Kursi
Kursi of Kursi Wiyono, M.Pd, Pendidik dan Penulis di Al Izzah Batu

TIMESPALEMBANG, BATUKursi

Kurang isi

Tak kurang isi

Akur terisi

Tak akur

Tak terisi

Kursi

Kurang gizi

Tak kurang gizi

Kursi

Kau dicari

Kau tak dicari

Kursi

Akur korupsi

Tak akur korupsi

Kursi

Bersyukur berisi

Tak bersyukur

Tak  berisi

Kursi

Wajar mencari

Yang tak punya kursi

Tak wajar mencari

Yang punya kursi

Akur prestasi

Tak akur

Tak prestasi

Kursi, kursi

Milik ilahi Robby

Batu, 17-10-13

Seorang sastrawan sangat jarang yang mau menafsirkan karyanya sendiri, baik melalui tulisan maupun secara lisan. Bahkan memberikan PR yang luar biasa kepada sastrawan lain, pembaca, atau para pengulas karya. PR ini dibiarkan mengembara tanpa batas dan tak tentu arah. Sehingga muncul berbagai macam pandangan, persepsi, komentar, dan kritikan, serta dugaan yang belum tentu benar atau salah. Akhirnya berawal dari pemahaman salah berdampak pada salah faham.

Oleh sebab itu di awal opini ini, penulis awali dengan menampilkan puisi karya penulis sendiri yang sudah terpendam sekitar dua tahun yang lalu, tepatnya tahun 2017. Bahkan puisi tersebut sudah tersebar ke banyak pembaca. Di tulisan yang sederhana ini, penulis akan mengulas, menganalisis, mengupas, serta mengurai makna atau pesan tersurat dan tersirat yang terkandung di dalam puisi tersebut. Sehingga para pembaca tidak menimbulkan banyak persepsi ganda yang berdampak kepada kesalahfahaman. Langsung saja mari kita bahas mulai makna tersirat kemudian yang tersirat yang terkandung dalam puisi tersebut.

Pertama, makna kata tersurat kursi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti tempat duduk yang berkaki dan bersandaran kedudukan, sedangkan makna simbolnnya yaitu jabatan atau kedudukan.

Kedua, kurang isi, tak kurang isi, makna tersurat, jika suatu tabung apabila kurang isi perlu ditanmbah, apabila penuh maka tidak perlu ditambah. Makna tersiratnya, sebuah jabatan biasanya sebelum jabatan habis sudah disiapkan siapa yang pantas mengisi jabatan tersebut, bahkan jabatan masih diduduki sudah ada yang berusaha menggoyang sehingga yang menduduki jatuh dan segera diduduki yang lain.

Ketiga, akur terisi, tak akur tak terisi, makna tersiratnya, seseorang yang mendapat fasilitas lebih ketika dekat dengan pejabat, namun jika tidak maka jauh dari harapan, atau boleh diartikan seorang pejabat akan memberikan fasilitas yang diperlukan kepada orang yang dekat dengannya, bukan kepada yang jauh.

Keempat, kursi, kurang gizi, tak kurang gizi, di bait ini bermakna seseorang yang sudah menduduki jabatan tersebut bisa saja tercukupi kehidupannya atau bahkan kemewahannya, atau bahkan sebaliknya, semuanya tergantung individunya masing-masing.

Kelima, kursi, kau dicari, kau tak dicari bermakna bagaimanapun juga tetap dicari atau tidak, semua tergantung pada niat awalnya. Jika niat baik maka hasilnya baik, jika kurang, maka sebaliknya yang akan didapat.

Keenam, kursi, akur korupsi, tak akur korupsi, di baris ini memiliki pesan, selagi masih memegang jabatan jangan sampai hal tersebut terjadi, sebaiknya jika tahu hal yang kurang baik, lebih baik tidak ikut meskipun taruhan jabatan tersebut.

Ketujuh, bersyukur berisi, tak bersyukur tak berisi, bermakna, siapa yang bersyukur atas nikmat Allah, maka Allah akan menambah nikmat tersebut, jika tidak bersyukur maka tidak akan dapat nikmat, justru yang yang didapat yaitu adzab atau sengsara.

Kedelapan, kursi, wajar mencari, yang tak punya kursi, tak wajar mencari, yang punya kursi, memiliki pesan, sebaiknya yang sudah menduduki jabatan dalam hal ini kursi lebih baik menjalankan tugas yang diembankan dengan baik, bukan malah melirik yang lain. Dengan kata lain memanfaatkan jabatan yang diembannya semaksimal mungkin untuk kemaslahatan umat manusia yang ada di muka bumi ini. Apabila ada jabatan yang kosong alangkah baiknya silakan diberikan kepada yang lain dan belum punya, sekaligus yang berhak dan kompeten di bidang tersebut.

Kesembilan, akur prestasi, tak akur tak prestasi, ini baru bagus, bermakna atau memiliki pesan, mari kita semua kerjasama untuk meraih prestasi di bidangnya masing-masing untuk membangun negeri sebagai bakal menghadap ilahi robbi dan kita diridloi. Jika kita kerjasama maksimal maka negeri ini akan terkendali dan madani, jika tidak kerjasama maka kita tidak akan bisa memakmurkan negeri ini.

Kesepuluh, terakhir, jangan berebut kursi, karena kursi itu milik ilahi. Pada hakikatnya siapa yang duduk di kursi tersebut adalah sesuai ridlo ilahi, dan ingat pada nantinya akan bertemu ilahi.

Kesimpulannya, siapapapun yang duduk di kursi, merupakan kesempatan yang diberikan Allah seluas-luasnya untuk kemaslahatan umat manusia, sekaligus jika berjalan di jalan yang benar maka di hari kiamat nanti termasuk tujuh orang yang akan dapat perlindungan selain perlindungan dari Allah. Namun jika sebaliknya maka itu termasuk kegelapan di hari kiamat nanti. Pesan lain yang tersirat, mari pahami kandungan Q.S Al Maidah ayat dua berikut: …tolong-menolonglah dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran (Q.S. Al Maidah:2)

*) Wiyono, M.Pd, Pendidik dan Penulis di Al Izzah Batu

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com