Bukan "Isabella"

Home / Kopi TIMES / Bukan "Isabella"
Bukan "Isabella" Edi Sugianto, Dosen Institut Agama Islam (IAI) Al-Ghuraba Jakarta.

TIMESPALEMBANG, JAKARTAEpisode ke-1

Saya terbangun dari tidur kira-kira pukul 05.00, saya kira sudah telat Subuh ternyata masih kurang sejam lagi. Waktu Subuh Kuala Lumpur adalah Pukul 06.10. Biasanya di Jakarta, Subuh 04.39. Kita berbeza. Tak apa. Sunnatullah! 

Semalam, saya kira nasi goreng yang dibelikan Mas Rifki (Malaysia) tidak akan habis termakan. Eh..ternyata saya lebih dulu menghabis Nasgor itu daripada Pak Azwar. Bukan rasanya yang beda, tapi mungkin efek lapar yang sangat, karena dari Jakarta - KL hanya sempat makan sekali di Pesawat KLM. Itu pun "seuprit", mana nendang! Biasanya makan di kampung "sebakul" apalagi dengan cumi-cumi kecil yang disedikan mama. Kita memang berbeza "berkatnya". Tak apa. InsyaAllah berkahnya sama. 

Di Imigrasi KL. "Malam Om..!", kataku. "Hendak kemana?", petugas. "Sandpiper Hotel KL, Jalan Kudu" kataku. Kata kawan: "Pudu...bukan Kudu". Saya tahunya di Jakarta Kudu. Memang "kudu" banyak bacpacking biar tahu nama jalanan. Nama jalanan adalah berbeza-beza tetapi tujuannya sama. Mencari ridho Allah subhanahu wata'ala bukan ridho manusia apalagi Ridho Rhoma. 

Berbeda banget malam-malam menikmati jalanan KL dengan iringan "Isabella". Nostalgia dengan lagu yang nge-hit dan viral ketika saya masih bocah. Denger di radio-radio kesukaan di bilik pulau tercinta. Siapa yang tak kenal dengan pelantun merdu Isabella; Amy Search atau Suhaimi bin Abdurrahman. Entah orang ini ada dimana sekarang? Saya enggak tahu.

Setahu saya di Malaysia dan Singapore stopkontak dan colokan listrik semuanya berkaki tiga. Sebagian kawan-kawan katanya bingung. Padahal lubang yang atas hanya cukup dicolok dengan benda yang aman, maka fungsinya sudah berubah menjadi colokan kaki dua. Berbeza tapi fungsinya sama. Biar batrey HP terisi kan? 

Pagi-pagi biasanya sarapan dengan nasi uduk, kali ini hanya sarapan roti dan secangkir susu. Tapi...setelah nasi goreng dengan berbagai lauknya. Wkwk. Beza sarapannya, tapi kenyangnya sama. 

Ini bukan tentang kisah cinta Isabella. Hanya perbezaan-perbezaan biasa yang lumrah terjadi dalam kehidupan lintas negara. Mungkin Anda juga pernah merasakannya. 

Episode ke-2

Pagi-pagi (14/2) ngasi makan merpati di Batu Caves. Nostalgia lagi dengan hobi masa kecil: memelihara merpati Balap. Pengunjung ramai banget, guys! 

Batu Caves adalah bukit kapur yang memiliki kuil gua Hindu. Terdapat patung besar Dewanagari. Dalam kepercayaan Hindu, dewa ini adalah dewa pelindung dan kejayaan. Di Indonesia ada juga tapi tak sedege di distrik Gombak Selangor Malaysia. Berbeza ukuran tapi masih dengan nama yang sama. 

Lalu, silaturrahim ke International Islamic University Malaysia (IIUM), kampus Islam terbesar dan modern pertama di Malaysia yang memiliki ribuan mahasiswa dari berbagai negara. MasyaAllah wow...suasananya sejuk sekali dengan pemandangan bukit-bukit. 

Kami cukup banyak berdiskusi dengan sivitasakademika kampus. Melihat berbagai gedung penting, seperti IIUM Gallery dan masjid. Dari perbincangan, konon Dr. Sony (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah Malaysia) adalah dosen penting di IIUM. Sama-sama dosen dengan saya, tetapi tentu levelnya berbeza.

Library IIUM dengan fasilitas super lengkap dan nyaman bagi pengunjung. Buku "Be a Writer Be a Winner" menjadi persembahan dan akan menjadi koleksi Perpus. Saya mendapatkan piagam penghargaan yang dikirim langsung ke email. Library IIUM dan kampus adalah terdapat banyak perbezaan, namun tujuannya sama sebagai jendela hikmah dunia akhirat, Bro!

Usai kunjungan cukup serius, kami sejenak menghibur diri di Genting Highlands dengan menaiki Awana Skyway; lift gondola yang menghubungkan Awana Transport Hub, Chin Swee Temple dan SkyAvenue. Wahana hiburan di Pahang ini katanya diperbarui sejak 2016 lalu. Di Indonesia (TMII Jakarta) ada juga, tetapi berbeza. Saya kira lebih menantang di Pahang. Patut dicoba!

Kemudian kami mampir di Pasar Seni di KL. CentralMarket yang sangat tua, sudah ada sejak 1883. Berbelanja oleh-oleh khas Malaysia adalah sesuatu yang tak terlupakan. Mungkin apa yang kami beli bukan sesuatu yang wow bahkan di Jakarta lebih banyak, tetapi oleh-oleh menjadi barang istimewa dan berbeza di mata keluarga. 

Bahkan saya, Mas Asron, dan Mas Azwar rela keluar hotel malam-malam, pergi ke pasar yang jaraknya cukup jauh. Buat apa? Hanya untuk menikmati buah rambutan Malaysia yang dagingnya legit luarbiasa. Tak lupa juga Duren Musang King tak luput dari buruan penasaran kami. 

Mungkin sebagian kawan bertanya-tanya: Entah apa yang merasuki kami bertiga kok enggak kenyang-kenyang? Padahal satu jam lalu baru makan malam bersama di sekitar Menara Kembar Petronas. Saya pun menikmati daging kambing dan es kelapa muda dingin. Begini, ini bukan masalah kenyang, tapi untuk menikmati penasaran. Penasan pada sesuatu yang berbeza adalah boleh dipaksakan untuk dinikmati, karena ini bukan masalah cinta seperti Isabella. 

Episode ke-3

Menghirup suasana pagi di sekitar gedung pusat pemerintahan (Puspem) lama memang Mantul. Kita tahu, Puspem Malaysia pindah 30 Km ke Putra Jaya, tapi Kuala Lumpur tetap sebagai Ibukota. Berbeda dengan negara "anu" yang ribut-ribut masalah Ibukota. Sangat politis!

Kami juga mampir ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kuala Lumpur, merupakan kedutaan terbesar di dunia. Sebab, WNI di Malaysia yang tercatat berjumlah 800 ribu orang. Sedangkan dengan yang tidak tercatat sekitar 3 juta. Pelayanan di KBRI adalah 24 Jam, karena setiap hari warga yang datang tidak kurang dari 1000 orang. Tentu, dengan berbagai masalah, misalnya perpanjang paspor, izin tempat tinggal, dan kasus-kasus lainnya.

Di Malaysia stabilitas politik dan kebijakannya cukup stabil. Berbeza dengan negara "anu". Karena itu, meskipun di Indonesia semua ada, namun kita belum mampu mengemas dan mem-branding potensi-potensi yang ada.

Sembari berdiskusi hangat, pagi-pagi Kang Hari menyuguhkan soerabi mini dan kopi. Mantab bana! Bentuk soerabinyaberbeza dengan buatan mama Yani di Jakarta, namun rasanya sama: fuwa-fuwa banget!

Lanjut menikmati lagi berbagai durian, kali ini di Kampung Bharu, Jalan Raja Alang. Favoritnya masih Mousang King. Penjualnya mayoritas adalah orang Padang. 16 orang meghabiskan 274 RM (hampir 1 Jt). Cukup puas!

Selama perjalanan di KL tidak terdengar bunyi-bunyi klakson yang membisingkan, padahal di depan hotel Sandpiper kadang juga macet panjang. Subhanallah! Meskipun namanya sama-sama klakson, klakson di KL dan di "anu" terdapat perbezaan dalam penggunaan.

Rihlah ke negeri Jiran kali ditemani hujan di sepanjang jalanan Putra Jaya usai melaksanakan shalatJum'at berjamaah. Hujannya berbeza dengan di Jakarta, tak ada genangan apalagi banjir. Sekali lagi ini adalah cerita biasa berbeza dengan kisah Isabella. Jazakallah khair untuk semua rekan IAI Al-Ghuraba. Especially for our Rektor Mr. Iwan Kurniawan. Sampai jumpa!. (*)

*)Oleh: Edi Sugianto, Dosen Institut Agama Islam (IAI) Al-Ghuraba Jakarta.

*)Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*)Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com