Butuh Nasionalisme untuk Memerangi Covid 19

Home / Kopi TIMES / Butuh Nasionalisme untuk Memerangi Covid 19
Butuh Nasionalisme untuk Memerangi Covid 19 Eri Hendro Kusuma, Sekretaris Umum MD KAHMI Kota Batu.

TIMESPALEMBANG, JAKARTA – Sosok yang kalem, pemikir serius, sederhana, serta berkomitmen tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka adalah gambaran seorang tokoh sekaligus Pahlawan kemerdekan Indonesia yang bernama Mohammad Hatta. Kisah unik sekaligus heroik karena demi kemerdekaan Indonesia, beliau menikah di usia 43 tahun dan waktu itu menduduki posisi sebagai wakil presiden.

Selain perjuangan dari seorang Mohammad Hatta, Jendral Soedirman adalah sosok pahlawan yang sangat luar biasa dalam berjuang mempertahankan Negara Indonesia. “Yang sakit Soedirman, panglima besar tidak pernah sakit” merupakan perkataan yang sangat heroik dari panglima besar saat menolak saran Presiden Soekarno untuk tidak bergerilya.

Bagi penulis perkataan Jendral Sudirman tersebut memiliki pesan sangat mendalam akan pentingnya nasionalisme dibandingkan dengan kepentingan Individu. Kalimat “yang sakit Soedirman” ini menggambarkan individu sang pahlawan, sedangkan “panglima besar tidak pernah sakit” adalah gambaran tanggung jawab terhadap negara. Pada akhirnya dalam keadaan sakit yang cukup parah beliau memutuskan untuk memimpin geriliya melawan Belanda, dibandingkan dengan berbaring di rumah sakit.

Perjuangan dua pahlawan yang penulis contohkan diatas adalah teladan bagi bangsa Indonesia. Beliau berdua selalu menempatkan kepentingan negara di atas kepentingan pribadi. Tidak hanya berucap atau berjanji, tapi mereka telah mampu membuktikan dengan tindakan yang nyata, inilah yang menjadikan beliau berdua adalah sosok nasionalisme sejati.

Saat ini hal yang sama juga dilakukan oleh tenaga medis yang menjadi garda terdepan untuk melawan pandemi covid 19. Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) merilis lima dokter yang telah menjadi korban pandemi covid 19. Dari akun twitter resmi PB IDI disebutkan kelima dokter tersebut adalah dr. Hadio Ali SpS, dr. Djoko Judjoko, SpB, dr. Laurentius P, SpKJ, dr. Adi Mirsaputra SpTHT, dan dr. Ucok Martin, SpP.

Perjuangan Pahlawan Medis Melawan Pandemi Covid-19

Penulis meyakini bahwa nasionalisme juga menjadi dasar para pahlawan medis untuk perang melawan pandemi Covid-19. Dalam keadaan darurat corona secara global menyebabkan peralatan medis di dunia menjadi langkah. Perang dengan menggunakan “senjata terbatas” menjadi kendala para tenaga medis untuk menghadapi makhluk yang tidak nampak secara kasat mata ini. Tugas dan tanggung jawab terhadap negara, diyakini menjadi salah satu kunci mereka tetap bekerja dengan keterbatasan senjata medis dalam menghadapi pandemi Covid-19 ini.

Selain kendala peralatan medis, stigma sosial di masyarakat nampaknya juga menjadi tantangan tersendiri oleh para tenaga medis di tanah air. Sebagai garda terdepan melawan pandemi Covid-19, tentu mereka menjadi orang yang sangat beresiko tertular. Sehingga tidak jarang masyarakat yang memberikan stigma kepada tenaga medis dan keluarganya sebagai penyebar pandemi Covid-19.

Pada saat pahlawan medis ini gugur, keheningan dan kesunyianlah yang menghantarkan ke pemakaman. Tidak banyak iringan dari keluarga maupun tetangga, apalagi tembakan salvo pada saat jenasah dikebumikan, adalah bentuk perjuangan hakiki seorang pahlawan sejati. Hanya doa yang pada akhirnya mengantarkan kepergian para pahlawan tersebut ke peristirahatan terakhir di dunia.

Penghargaan dari pemerintah sudah selayaknya diberikan kepada mereka yang telah berjuang dan gugur di medan perang melawan Convid-19 ini. Jaminan kehidupan keluarga yang telah ditinggalkan, juga sudah selayaknya menjadi tanggung jawab negara sebagai bentuk pengakuan pengabdian para pahlawan medis kepada negara.

Menahan diri adalah nasionalisme saat ini

Dalam kondisi seperti saat ini tentu dibutuhkan sinergisitas dari berbagai komponen masyarakat. Kesadaran masyarakat untuk hidup disiplin dan bersih, menjadi modal penting melawan penyebaran pandemi Convid-19 ini. Menjalankan himbauan-himbauan dari pemerintah terkait belajar di rumah, bekerja di rumah, beribadah di rumah, dan untuk sementara waktu kita melaksanakan social distancing adalah bentuk nasionalisme kita hari ini.

Menahan diri untuk tidak berkunjung ke kafe, tempat wisata, acara arisan, pesta maupun kelompok sosial lain adalah bentuk ikhtiar kita dalam mencintai Negara Indonesia. Saat ini tidak berkumpul bukan berarti hilang solidaritas, sebaliknya demi solidaritas kita tidak berkumpul. Sementara cara tersebutlah yang bisa kita lakukan untuk membantu pemerintah dalam melawan penyebaran pandemi Convid-19 ini.

***

*) Penulis adalah Eri Hendro Kusuma, Sekretaris Umum MD KAHMI Kota Batu.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com