Tak Gampang Menggantikan Peran Guru

Home / Kopi TIMES / Tak Gampang Menggantikan Peran Guru
Tak Gampang Menggantikan Peran Guru Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESPALEMBANG, MALANG – Diantara buku, ada yang menyebutnya kitab, yang berkesan bagi saya adalah Talimul Muta’alim karya Imam Az Zarnuji. Buku itu bercerita tentang adab dalam mencari ilmu. Tentu saja terkait kitab itu ada cerita yang melatarbelakanginya. 

Ceritanya begini. Pada suatu saat, bapak saya pernah menasihati. Ia mengatakan, salah satu wujud memuliakan ilmu yang sedang dituntut itu dengan memuliakan bukunya. Saya waktu itu tidak begitu paham. Memuliakan yang dimaksud saya juga tidak tahu. Intinya saya hanya belajar saja dengan tekun. Saya hanya membaca saja. Apalagi dirumah, bapak saya punya buku banyak. 

Pada suatu ketika saya ikut mengaji di PP Nurul Ummah, Prenggan, Kotagede, Yogyakarta. Sebagaimana layaknya sebuah tempat belajar ilmu, sebagian menyebutnya pesantren,  banyak kitab (buku). Tentu saja saya tidak paham karena kebanyakan kitab kuning “gundul” (tanpa harakat). Membaca huruf Arab saja saya tidak lancar apalagi membaca kitab gundul itu. 

Diantara buku tersebut ada  kitab Ta’lim Muta’alim itu. Di sana ada kitab gundulnya juga. Nah, kebetulan sekali ada yang punya  kitab Arab Pegon (diartikan memakai bahasa Jawa). Tentu saja saya lebih pagam kitab dengan Pegon itu. Minimal saya pernah membaca buku khotbah milik bapak yang berbahasa Arab Jawa Pegon tersebut. Asalkan orang bisa membaca huruf Arab, ia akan mudah memahami Arab Pegon. Tinggal menyesuaikan beberapa jenis huruf, kata dan bacaannya. Cukup mudah. 

Kitab Ta’limul Muta’alim itu kitab yang saya senangi. Maklumlah saya sedang belajar bergairah mencari ilmu dan mengaji. Penguasaan Bahasa Arab juga tidak ada. Orang desa kebanyakan tahunya hanya mengaji saja. Buru-buru membaca kitab kuning gundul itu.  

Adab dan Ilmu

Dalam buku Ta’limul Muta’alim disebutkan tentang kemuliaan ilmu dan peran seorang guru dalam mendukung keberhasilan murid. Tidak saja berkaitan dengan pentingnya ilmu bagi murid tetapi juga pentingnya adab. Bahkan dikatakan adab lebih penting dari hanya sekadar menuntut ilmu.

Sebagaimana dikatakan dalam kitab  tersebut, “Penting dikatahui bahwa seorang penuntut ilmu  tidak akan memperoleh ilmu dan tidak dapat mengambil maanfaat dari ilmu itu, kecuali dengan menakzimkan ilmu dan para ahlinya; juga memuliakan dan menghormati para guru”.

Lebih lanjut diungkapkan lagi bahwa seorang tidak akan sampai pada suatu tujuan kecuali dengan penghormatan dan tidak akan terjatuh kecuali dengan meninggalkan penghormatan itu.

Tentu nasihat kitab itu bukan  untuk mengkultuskan seorang guru. Tidak. Ada sebuah nasihat bahwa salah satu ciri manusia terbaik adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Jika sekarang banyak orang hanya mau menangnya sendiri, jangan-jangan ada yang “salah” dalam menuntut ilmu waktu itu. Ia tidak banyak mendapat doa guru karena minimnya menghormati dan meneladani gurunya.  

Misalnya, seseorang hanya menghafalkan saja. Ya dapatnya hanya hafalan itu. Dalam ilmu tentu ada barokah guru. Di sinilah pentingnya guru dalam memberikan dan menyebarkan ilmunya. Menghormati guru juga menghormati ilmu yang ada padanya. Sehingga barokah guru akan bisa dinikmati oleh seorang penuntut ilmu itu. Maka menghormai guru itu penting. 

Sekarang ada masalah baru muncul. Bagaimana jika ada guru yang kejam pada muridnya? Ada guru yang merasa sok pinter? Sok pinter itu membuat murud-muridnya takut. Takut saja, bukan sikap hormat.  Jangan-jangan ini hukum alam. Jangan-jangan gurunya dulu itu dalam menuntut ilmu seenaknya saja. Tidak menghormati guru dan memuliakan gurunya. Hasilnya ia tidak mendapat barokah ilmu dari gurunya dan  tidak dihormati murid-muridnya. Ditakuti dan dihormati tentu beda. Takut belum tentu hormat. Hormat di dalamnya ada keseganan. Coba lihat berapa banyak guru yang seperti itu? 

“Maka, seorang penuntut ilmu harus mencari ridha gurunya, menjauhi kemurkaannya, melaksanakan perintahnya selama bukan maksiat. Sebab tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada penciptana, demikian kata kitab Ta’lim lagi”. 

Jika pun ada guru yang hanya dikatuki murid-muridnya jangan-jangan dia hanya bertindak sebagai transfer ilmu saja. Jika begini dia tidak mengajarkan adab, hanya seperti mesin transfer ilmu. Jangan-jangan lagi dia  dahulunya kurang menghormati dan memuliakan gurunya? Hukum sebab akibat di dunia ini tetaplah ada.

Covid-19 dan Keluhan Orang Tua

Bukankah hebat dan penuh pengabdian apa yang dilakukan seorang guru itu? Boleh kita berkilah bahwa itu guru zaman dahulu. Zaman sekarang tentu beda. Tetapi soal adab yang diteladankan seorang guru tidak akan lekang oleh waktu. Tentu dengan berbagai dinamikanya. Tak mudah menjadi guru karena “kesengsaraan dan ikhtiar” lahir matinnya melebihi yang dilakukan murid-muridnya. Saya bercerita guru dalam tataran ideal. Bukan guru sekarang yang tidak sedikit hanya sebagai tukang transfer ilmu.  Meskipun  namanya tetap sama-sama guru.

Sekarang muncul wabah virus Covid-19. Dampaknya sungguh dahsyat. Salah satu dampaknya adalah sekolah libur. Kampus-kampus memberlakukan sistem pembelajaran daring (online). Tentu saja menimbulkan keterkejutan-keterkejutan karena di luar kebiasaan.

Anak-anak banyak di rumah. Mereka belajar mandiri di rumah. Guru memberikan tugas. Kemudian orang tua yang selama ini mengandalkan guru dalam pembelajaran anaknya mulai kewalahan. Ada yang mengeluh banyak tugas. Ada yang mengatakan tak perlu ada tugas. Biarlah anak libur di rumah. Intinya jangan dibebani banyak tugas.

Guru tentu beda sudut pandang. Anak diberikan tugas biar murid-muridnya itu tidak main game online. Atau malah diajak oang tuanya rekreasi, padahal harus menjaga physical distancing untuk menekan suburnya virus Covid-19.  

Memang ada orang tua yang mampu membatasi anaknyaa kecanduan game online. Tapi tak sedikit orang tua yang menikmati. Asal anaknya tidak menganggu orang tuanya sehari-hari. Ini tipe orang tua yang mau gampangnya saja. Selama ini anaknya sekolah, sekarang orang tua terpaksa harus ikut meng-handle belajar anak.  

Baru bisa merasakan bagaimana pengorbanan seorang guru, kan? Apakah selama ini tidak sadar bahwa gurunya di sekolah itu mengajar anaknya yang (mungkin) bandel itu gampang? Anak yang tidak biasa disiplin, malas belajar, manja di rumah tetapi di sekolah harus patuh pada gurunya. Ya beruntung jika murid-muridnya itu patuh-patuh dan pintar semua. Tapi tak semua guru bisa menikmati kenyamanan seperti ini.

Orang tua isinya marah-marah. Anaknya susah diajari. Anaknya pemalas. Orang tua berpikir, apa yang diajarkan gurunya selama ini begitu? Begitu orang tua mengeluh. Jangan-jangan jika tidak diajar guru anaknya tambah nakal? Itu lebih mending disekolahkan. Bagaimana jika tidak? Penting kan peran seorang guru?

Tak Sekadar  Mengajar

Kaitannya dengan anak yang belajar di rumah saya jadi ingat kitab Ta’lim Muta’alim di atas. Pertemuan fisik anak didik dengan guru sungguh penting. Tak gampang mengganti pembelajaran dengan teknologi atau tanpa tatap muka. Secanggih apapun.  Ada banyak yang hilang. 

Dalam kontak fisik dengan guru, murid dilatih untuk menghormati guru. Menyadap ilmu yang dimiliki guru. Tentu saja memuliakan guru. Guru bertugas melatihnya. Guru mengajar tak hanya pelajaran. Kalau hanya pelajaran saja, murid disuruh membaca selesai. Dosen menganjurkan mahasiswa membaca beres semuanya. Lalu ujian. Semua kelar. 

Tapi bukan itu hakikat sistem pembelajaran, bukan? Guru memberikan teladan lain yang berkaitan dengan banyak hal. Kejujuran, kesabaran, peduli sesama, empati, menghormati orang lain, dan daya dorong untuk maju sebagai calon pemimpin. Satu hal yang pasti, guru mengajarkan pada murid pentingnya akhlak (adab) dari sekadar menuntut ilmu. Dalam hal ini tugas guru tidak ringan. Guru akan dihormati dan dimuliakan jika mampu mengajarkan akhlak, tak sekadar hanya transfer ilmu pengetahuan.  Sekali lagi, adab sering lebih penting sebelum ilmu, begitu petuah bijak. (*)

***

*) Penulis: Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Twitter: @nurudinwriter dan Intagram: nurudinwriter.

*) Tulisan opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: opini@timesindonesia.co.id

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com