Program TisTas Jatim dan Harapan Perbaikan Mutu Pendidikan

Home / Kopi TIMES / Program TisTas Jatim dan Harapan Perbaikan Mutu Pendidikan
Program TisTas Jatim dan Harapan Perbaikan Mutu Pendidikan Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESPALEMBANG, MALANG – Program Pendidikan Gratis Berkualitas (TisTas) yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Propinsi Jawa Timur layak mendapat apresiasi. Karena program Tistas ini menggratiskan biaya SPP untuk jenjang SMA/SMK untuk sekolah negeri dan subsidi untuk sekolah swasta. Program yang akan running per Juli 2019 ini diharapkan usia sekolah dapat menuntaskan belajar 12 tahun selain program 9 tahun yang sudah berjalan.

Biaya gratis untuk jenjang SMA/SMK yang dikeluarkan oleh Pemprop Jatim ini dalam rangka meningkatkan Indeks Pembanguan Manusia (IPM) Jawa Timur yang masih terendah untuk pulau Jawa dan urutan 14 seluruh Indonesia. Asumsi yang dipakai semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang maka indikator IPM yakni umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak dapat dipenuhi. Namun demikian, apakah harapan program tistas untuk mengejar ketertinggalan IPM itu dapat terpenuhi dengan baik?

Untuk menjawab pertanyaan ini setidaknya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Karena pembangunan manusia dengan 3 indikator utama tersebut tidak serta merta dipenuhi hanya dengan ijasah pendidikan yang ada. Tetapi harus ada jaminan mutu proses pendidikan itu sendiri. Artinya adalah program tistas harus harus diikuti dengan program jaminan mutu pendidikan.

Jaminan mutu pendidikan yang paling krusial adalah pada proses pendidikan itu sendiri. Tantangan pemerintah saat ini adalah mempersiapkan generasi mendatang dengan karakter yang kuat yang terdiri dari 4 pilar: rasa, otak, hati, dan raga. Keempatnya harus harmoni dan sama-sama kuatnya. Selain itu arus informasi teknologi yang begitu masif ditambah dengan ketidakpedulian masyarakat yang semakin rendah karena tuntutan ekonomi yang semakin sulit, perjuangan mengantarkan generasi mendatang rupanya semakin berat. Ditambah tugas guru yang begitu banyak dengan tuntutan tugas administratif yang begitu rumit sedikit mengurangi pergatian terhadap peserta didiknya. Artinya harapan untuk membangun komunikasi yang baik antar pendidik dan peserta didik harus mendapat perhatian serius oleh pemerintah agar tercipta bukan hanya transfer of knowledge tetapi juga transfer of values and moral terhadap peserta didik kita. Bukannya kecerdasan intelektual hanya menyumbangkan 20% kesuksesan seseorang, sedangkan 80% ditopang oleh kecerdasan emosi yang kuat.

Untuk itu, penulis berharap iktikad super baik pemerintah Propinsi Jawa Timur yang dikomandani oleh Bu Khofifah Indar Parawansa dan Bapak Emil Dardak ini harus disertai dengan peningkatan mutu pendidikan terutama pada mutu proses pendidikan. Dengan demikian jargon gratis berkualitas itu dapat dicapai sesuai dengan standar yang ada. Kuncinya adalah optimalisasi tugas guru sebagai pengajar dan pendidik tanpa banyak dibebani dengan beragam kerumitan administrasi yang ada. Tentu ini perlu sistem yang kuat dan saya yakin hal itu dapat dicapai karena pemimpinnya mempunyai kepedualian yang kuat terhadap pendidikan.

*)Penulis: Muhammad Yunus, Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Islam Malang. 

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com