Lagi, 2 Tamatan SMA di NSW Diganjar Lottie Maramis Prize Atas Raihan di Bidang Bahasa Indonesia

Home / Pendidikan / Lagi, 2 Tamatan SMA di NSW Diganjar Lottie Maramis Prize Atas Raihan di Bidang Bahasa Indonesia
Lagi, 2 Tamatan SMA di NSW Diganjar Lottie Maramis Prize Atas Raihan di Bidang Bahasa Indonesia Angelina (tengah), kiri Eric De Haas (mantan ketua AIA NSW), kanan Hermanus Dimara. (FOTO: Riyanto/TIMES Indonesia)

TIMESPALEMBANG, SYDNEY – Setelah minggu sebelumnya Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney dan Asosiasi Australia Indonesia (AIA) NSW memberikan Lottie Maramis Prize kepada seorang lulusan SMA Anglikan Macarthur, pada Selasa (12/2/2019),  kembali KJRI Sydney dan AIA secara berturut-turut memberikan penghargaan yang sama.

Kali ini kepada dua orang lulusan SMA di dua sekolah yang berbeda. Award itu diberikan atas capaian nilai tertinggi bidang Bahasa Indonesia se-New South Wales pada Ujian Sertifikasi (HSC) Tahun 2018.

SMA-Anglikan-Macarthur-2.jpgDari kanan: Miriam Tulevski (VITO), guru Bahasa Indonesia di NSW School of Languages, Jasmine, Hermanus Dimara. (FOTO: Riyanto/TIMESIndonesia)

Kali ini penghargaan diberikan kepada Angelina Newton, lulusan dari SMA Woolooware atas capaian nilai tertinggi bidang Bahasa Indonesia kategori Lanjutan, dan Jasmine Low dari SMA Smith’s Hill di Wollongong atas capaian nilai tertinggi bidang Bahasa Indonesia kategori Pemula. 

Keduanya akan melanjutkan studi ke Universitas New South Wales. Secara terpisah hadir memberikan penghargaan tersebut adalah Konsul Penerangan, Sosial Budaya KJRI Sydney, Hermanus Dimara didampingi Asisten, Joanne Hajjar, serta mantan Ketua AIA NSW, Eric De Haas dan Miriam Tulevski dari Visit Indonesia Tourism Office (VITO) Sydney. 

“Atas nama AIA dan KJRI Sydney, saya ingin mengucapkan selamat kepada Angelina atas dedikasi dan upaya luar biasa mencapai nilai tertinggi se-NSW pada 2018 HSC Bahasa Indonesia Lanjutan. Kami sangat gembira memberikan Lottie Maramis Prize tersebut kepada siswa-siswi yang mencapai keunggulan dalam Bahasa Indonesia, seperti Angelina”, ungkap Eric De Haas. 

SMA Woolooware menawarkan Bahasa Indonesia dan Bahasa Perancis sebagai dua Bahasa wajib di Kelas 7, di mana para siswa belajar Bahasa Indonesia selama setengah tahun dan juga Bahasa Perancis selama setengah tahun. Dari kelas 8, para siswa tersebut memilih bahasa yang akan diambil dari Kelas 8 – 12. 

Menurut guru Bahasa Indonesia di Wollooware,  Jo Peard, Bahasa Indonesia lebih popular sebagai pilihan dari pada Bahasa Perancis.
Sementara itu, Jasmine Low belajar Bahasa Indonesia melalui pendidikan jarak jauh  di NSW School of Languages, dengan guru Bahasa Indonesia adalah Ms. Christin Anggrahini, yang juga turut menghadiri acara penyerahan Lottie Maramis Prize.

“Kami mempersembahkan Lottie Maramis Prize ini tidak hanya sebagai pengakuan atas prestasi, kerja keras, dan kecintaan Anda pada Indonesia dan Bahasa Indonesia, tetapi juga sebagai wujud rasa bangga kami bahwa Anda telah menjadi bagian dari misi KJRI Sydney dan AIA NSW untuk memperkuat koneksi antara Indonesia-Australia, melalui Bahasa,” ungkap Konsul Dimara kepada Jasmine.

Hal itu disampaikannya di hadapan ratusan siswa, guru, para orang tua dan tamu undangan, mengacu salah satu misi prioritas KJRI Sydney untuk memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia.

Dalam rangka mendorong para siswa lulusan terbaik SMA bidang Bahasa Indonesia melanjutkan kecintaannya belajar Bahasa Indonesia setelah lulus SMA, setiap tahun KJRI Sydney dan AIA NSW memberikan Lottie Maramis Prize (sertifikat dan uang) kepada para lulusan terbaik tersebut. 

“Jujur, saya sangat terharu bercampur gembira menerima penghargaan ini. Terima kasih banyak telah menghargai capaian saya. Saya akan kuliah di Universitas NSW, di mana tidak ada program Bahasa Indonesia di sana, namun saya akan tetap lanjut belajar Bahasa Indonesia. Dan saya berharap didukung kemampuan berbahasa Indonesia saya, saya bisa berkontribusi bagi kedua komunitas kita”, ungkap Angelina dalam Bahasa Indonesia dengan sangat fasih.

Lottie Maramis Prize pertama kali diluncurkan oleh AIA pada tahun 2012, dinamai sesuai Patron AIA bernama Chalotte (Lottie) Maramis (Almh), diberikan kepada siswa-siswi yang mencapai nilai tertinggi se-NSW di HSC Bahasa Indonesia kategori Pemula, Continuers dan Ekstensi. (*)

Baca Berita Peristiwa dan Politik terbaru di Indonesia dan luar negeri lainnya hanya di TIMES Indonesia.

Berita Lainnya

Komentar

Top
satriamedia.com